STARTUP KE PASAR GLOBAL : LANGKAH “PIJAKBUMI” BUKTIKAN PRODUK LOKAL MENEMBUS PASAR DUNIA

Perdagangan internasional tidak lagi hanya sebatas bersaing di jalur konvensional tetapi juga bersaing diranah digital. Di era revolusi industry 4.0 segala hal dilakukan melalui teknologi, tentu saja dalam hal ekspor dan impor pun dilakukan melalui media digital. Hal ini menjadi tantangan bagi produsen lokal untuk bersaing dikancah dunia sebab selama ini ekspor Indonesia hanya didominasi bahan mentah yang akan diolah kembali oleh negara maju. Namun tantangan sesungguhnya adalah bagaimana generasi muda menghasilkan produk bernilai tinggi dengan standar nasional. Tentu saja di era globalisasi inovasi ekspor yang akan menjadi penentu masa depan perdagangan negara.
Generasi kini memiliki fasilitas yang lebih memadai dan lebih kreatif dibandingkan dengan generasi generasi sebelumnya. Mereka saling terhubung oleh media digital, sadar akan potensi inovasi, peka akan isu isu sosial dan lingkungan yang terjadi di dalam lokal maupun nasional. Generasi milenial dan generasi z menggeser fokus produsen terhadap produk lokal agar ikut serta dalam bersaing di pasar digital.
Langkah jauh produk sepatu lokal dengan inovasi hijau ber-merek Pijakbumi membawa sentuhan perubahan pandangan produsen lokal serta menjadi inspirasi anak bangsa mengubah kreativitas menjadi visa dalam membawa produk lokal ke pasar dunia. Bukan hanya berfokus pada fungsional dari alas kaki saja tetapi produk lokal ini juga berfokus pada kehidupan berekelanjutan. Merek sepatu dari Banduing yang hits ini dengan inovasi hijaunya berupa sepatu berbahan limbah yang biasanya tak pernah digunakan menjadi barang pakai ramah lingkungan, membuktikan bahwa produk lokal tidak harus bersaing melalui harga saja tetapi juga melalui nilai dan inovasi.
Berawal dari kehilangan sepatu lamanya Rownland Asfales-produsen dari Pijakbumi ini memulai bisnisnya. Ia tak secara langsung menciptakan sepatu dengan bahan daur ulang. Pada awalnya ia juga mengalami kegagalan bisnis dibidang insustri ini, meskipun ia sudah mencoba melakukan strategi pemasaran dengan harga terjangkau namun rupanya ia tetap kalah dalam persaingan industri fashion lokal.
Melalui kegagalannya itu produsen dari Pijakbumi ini menyadari bahwa insustri fashion merupakan penyumbang limbah terbesar. Dari situ ia mulai bereksperimen untuk menciptakan langkah besar yang tetap melindungi bumi.
Ia melakukan banyak riset untuk mendapatkan material material ramah lingkungan yang memenuhi standar hingga akhirnya ia berhasil mengembangkan metode pengolahan limbah. Pijakbumi menemukan bahan baku lokal yang ramah lingkungan dari ekstrak tumbuhan dan mengedepankan konsep hidup berkelanjutan dan eco-friendly. Tidak hanya serat tumbuhan ia juga menggunakan ban bekas dan daur ulang kapas sebagai bahan baku utamanya.
Mereka menerapkan teknologi traceability digital menggunakan teknologi blockchain sederhana memungkinan pembeli dari Tokyo atau London melihat darimana asal bahan baku daur ulang sepatu menjadi tameng kepercayaan sendiri dan transparasi untuk pembeli yang sangat menguntungkan dan menarik daya tarik global.
Alih-alih menunggu pembeli datang ia justru membuka jalannya sendiri untuk menjemput pembeli dengan mengoptimalkan penggunaan media digital. Pijakbumi menggunakan Etsy dan Shopify yang banyak digunakan masyarakat global. Hanya dalam waktu 3 tahun langkah Pijakbumi mampu menempatkan produknya dilebih dari 15 negara termasuk 3 negara besar yaitu Belanda, Jepang, dan Kanada.
Pijakbumi berhasil menembus pasar nasional terutama negara negara maju yang tengah memperhatikan isu isu terkait limbah seperti Eropa dan Amerika. Melalui 2 pilar utama yang saat ini masih menjadi keunggulan dari merek sepatu ini.
- Inovasi material dari limbah : alih alih menggunakan bahan sintesis konvensional, Pijakbumi secara konsisten bereksperimen dengan material daur ulang serta serat tumbuhan seperti eceng gondok dan batok kelapa.
- Pemasaran melalui platform digital : sebagai startup Pijakbumi memanfaatkan e-commerce global untuk mencapai pembeli global tanpa harus memikirkan distribusi tradisional yang memakan biaya cukup tinggi. Hal ini memungkinkan mereka menjangkau pasar global dan bersaing langsung dengan merek-merek besar dunia.
Selain sukses mengolah limbah menjadi barang pakai Pijakbumi juga memberdayakan pengrajin lokal melalui handcrafted yang menciptakan keunikan sendiri dari produknya. Kualitas produk yang dijaga untuk jangka panjang dan marketing yang konsisten menjadi kunci branding mereka Pijakbumi disokong posisinya dengan mendapatkan penghargaan ‘Emerging Designer The MICAM Milano 2020’ di Italia.
Perjalanan menuju ekspor pasar dunia tentu saja dihadapkan dengan tantangan. Seperti akses pembiayaan untuk skala bisnis yang masih kecil tentu saja cukup sulit untuk mencapai pasar global, regulasi dan standar untuk memenuhi sertifikasi internasional memerlukan biaya. Logistik juga merupakan tantangan yang cukup menyulitkan, mengelola pengiriman serta bea cukai lintas negara bukanlah hal yang muda.
Pijakbumi telah membuka gerbang penting dan memberikan bekal inovasi serta komitmen pada keunggulannya sebagai startup lokal dan berharap mampu menanamkan motivasi baru bagi produsen lokal. Mereka membuktikan sepasang sepatu ini berhasil melepas sekat sekat geografis antar benua. Indonesia bukan hanya sekedar pasar tetapi salah satu sumber produk berkualitas dan bernilai dimata dunia. Berbekalkan kreativitas dan media digital, masa depan ekspor Indonesia berada di tangan anak anak muda yang berani bermimpi besar. Dengan langkah nyata untuk membuat dunia memijak bumi yang dibuat di Indonesia.
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- PERAN ENERGI PANAS BUMI DALAM TRANSISI ENERGI HIJAU: WUJUD SYUKUR ATAS
- MENGEMAS MASA DEPAN EKSPOR INDONESIA BEBAS SAMPAH PLASTIK
- Generasi Muda Madrasah Wujudkan Harapan Ekspor Hijau untuk Indonesia
- DARI REMPAH HINGGA DIGITAL: WAJAH BARU KEKAYAAN EKSPOR INDONESIA
- Uap Menjadi Cahaya: Jejak Panas Pengubah Masa Depan
Kembali ke Atas



